Memprediksi Resiko Kematian Orang Gemuk

Jakarta, Obesitas atau kelebihan berat badan yang tinggi dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Dengan metode baru Edmonton Obesity Staging System (EOSS), tingkatan obesitas dapat dikaitkan langsung dengan risiko kematian akibat penyakit yang diderita.

Tingkat obesitas selama ini hanya diukur dengan menggunakan metode Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index (BMI). Namun BMI tidak bisa mengaitkannya langsung dengan risiko penyakitnya. BMI juga tidak bisa membedakan antar jaringan lemak. Nah, dengan metode EOSS tingkatan obesitas bisa diklasifikasikan sesuai risiko penyakitnya.

Kategori BMI adalah:
Kategori Kurus: Nilai BMI kurang dari 19
Kategori Ideal: Nilai BMI 19-24,9
Kategori Gemuk: Nilai BMI 25-29,9
Kategori Obesitas: Nilai BMI sama dengan atau lebih dari 30

Kemudian kategori obesitas dibagi lagi tingkatannya berdasarkan standar WHO:
Obesitas tingkat 1: dengan angka BMI 30-34,9
Obesitas tingkat II: dengan angka BMI 35,39,9
Obesitas tingkat III: dengan angka BMI sama dengan atau lebih dari 40

Peneliti Kanada mengembangkan EOSS untuk mengklasifikasikan orang gemuk dalam 5 kategori mulai dari level nol sampai level 4 yaitu:
Level 0, masuk dalam obesitas tingkat I moderat
Dengan ciri:

  1. Tidak ada tanda-tanda obesitas yang terkait faktor risiko penyakit
  2. Tidak ada gejala fisik dan psikis
  3. Tidak ada keterbatasan fungsi tubuh
  4. Dengan kondisi ini tidak ada faktor risiko yang jelas terhadap tekanan darah, lipid serum dan kadar glukosa puasa dalam kisaran normal.

Level 1, masuk dalam obesitas tingkat I tinggi
Dengan ciri:

  1. Ada faktor risiko yang terkait dengan hipetensi, kadar gula darah puasa, enzim liver
  2. Mulai ada gejala fisik ringan yang dirasakan seperti apnea atau berhenti bernapas saat tidur, sakit kepala.
  3. Mulai ada gejala psikis ringan yang bisa dirasakan seperti gangguan tersebut mulai memberikan dampak pada kehidupannya.

Level 2, masuk dalam obesitas tingkat II
Dengan ciri:

  1. Terkait erat dengan penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, hipertensi, apnea atau berhenti bernapas saat tidur, osteoartritis.
  2. Timbul gejala psikis seperti depresi, tidak bisa mengontrol makan yang amat berlebihan
  3. Aktivitas harian mulai terbatas

Level 3, masuk dalam obesitas tingkat III
Dengan ciri:

  1. Mulai terjadi kerusakan organ-organ karena penyakit gagal jantung, komplikasi diabetes dan masalah osteoartritis yang parah.
  2. Gejala psikis yang dirasakan sangat signifikan seperti depresi berat dan keinginan untuk bunuh diri
  3. Fungsi tubuh makin mengalami keterbatasan yang mengganggu aktivitas rutin sehari-hari
  4. Kualitas hidup sangat tidak baik

Level 4, masuk kategori obesitas tingkat III parah
Dengan ciri:

  1. Risiko kematian yang sudah semakin dekat karena kegagalan fungsi organ
  2. Fungsi-fungsi tubuh makin terbatas

Untuk mengevaluasi EOSS, Jennifer L. Kuk, PhD dan rekan penelitian dari Toronto’s York University, telah meneliti ribuan catatan pasien dari sebuah klinik di Texas. Setiap pasien dibagi dalam kelompok berdasarkan risiko dalam perhitungan EOSS dalam 16 tahun riwayat medis.

“Nilai tinggi dalam EOSS adalah prediktor yang kuat atas peningkatan angka kematian. Bahkan dalam kategorisasi BMI, ada pemisahan yang jelas dari kurva survival menurut skor EOSS,” kata Dr Raj Padwal dari University of Alberta dalam Canadian Medical Association Journal edisi 15 Agustus 2011 seperti dikutip esciencenews, Kamis (25/8/2011).

Alat ini dapat digunakan untuk memprioritaskan pasien dalam perawatan obesitas, termasuk intervensi untuk operasi bariatrik (operasi pengecilan lambung). “Penilaian meningkatnya risiko tersebut dapat memberi pemahaman yang lebih besar atas prognosis obesitas dan juga dapat membantu menentukan urgensi intervensi,” kata Dr Raj.

Peneliti mengusulkan agar EOSS dipertimbangkan sebagai tambahan dalam sistem klasifikasi antropometrik saat ini untuk menilai risiko kesehatan yang berkaitan dengan obesitas serta menentukan prognosis untuk panduan pengobatan.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan obesitas atau kelebihan berat badan, antara lain:
1. Kurangnya keseimbangan energi
2. Kurangnya aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari
3. Lingkungan
4. Kondisi kesehatan
5. Obat-obatan
6. Faktor emosi
7. Merokok
8. Usia
9. Kehamilan
10. Kurang tidur

Cara Menghitung BMI

Cara menghitung BMI dengan mengkuadratkan nilai tinggi badan (dalam satuan meter). Lalu nilai berat badan (dalam satuan kilogram) dibagi hasil kudrat dari tinggi badan tersebut.

Misalnya seseorang perempuan berusia 30 tahun memiliki berat badan 60 kg dan tinggi badan 160 cm (1,6 meter).
Cara menghitungnya adalah:
Pertama kali mengkuadratkan tinggi badan 1,6 X 1,6 hasilnya 2,56. Lalu nilai berat badan dibagi hasil perkalian dari tinggi badan yaitu 60 : 2,56 hasilnya 23,43. Berarti nilai BMI dari perempuan tersebut sebesar 23,43 dan masuk ke dalam kelompok ideal/normal.

Putro Agus, Adelia – detikHealth

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

UA-36762203-1